Apa Dampak Positif dan Negatif Pengurangan Kuota Pemain Asing di ISL 2017

PSSI pada Kongres 2017 lalu mewacanakan perubahan komposisi pemain asing untuk kompetisi tahun 2017 nanti. Jika sebelumnya pada kompetisi Indonesia Soccer Championship (A) 2016 dan Liga Super Indonesia 2014 setiap klub diwajibkan memiliki empat pemain asing dengan catatan satu di antaranya harus berasal dari Asia, pada kompetisi tahun 2017 ini PSSI berencana mengurangi jumlah itu.

Pada Liga Super Indonesia 2017 nanti, setiap klub rencananya hanya boleh mempergunakan tiga pemain asing. Dengan catatan dua dari benua mana saja, dan satu harus dari benua Asia. Pengurangan jumlah komposisi pemain asing ini jelas menimbulkan berbagai respon dari klub hingga para penikmat sepak bola Tanah Air.

Keputusan ini sendiri memang menimbulkan hal positif maupun hal negatif. Positifnya, pertama, dengan adanya pengurangan komposisi pemain asing dalam setiap klub, ini membuka peluang bagi para pemain lokal untuk bisa unjuk gigi. Sejauh ini, ketika klub masih menggunakan empat sampai lima pemain asing, kesempatan mereka untuk tampil juga berkurang.

Apalagi bagi mereka yang bermain pada posisi penyerang, gelandang serang, atau bek tengah. Karena umumnya klub-klub di Indonesia menggunakan pemain asing pada posisi tersebut. Karenanya, dengan pengurangan kuota pemain asing, pemain-pemain lokal yang bermain pada posisi tersebut bisa memiliki peluang tampil lebih banyak.

Selain itu, dengan semakin banyaknya pemain lokal yang akan bermain pada posisi-posisi itu juga diharapkan bisa memunculkan banyak nama-nama bagus yang bisa memperkuat tim nasional Indonesia. Seperti diketahui, karena kerap didominasi oleh pemain asing, sulit menemukan talenta-talenta lokal yang bagus dari posisi-posisi itu.

Terkhusus posisi striker, setelah era Boaz Solossa, hingga saat ini belum ada pemain lokal yang mampu menjadi top-skorer Liga Indonesia. Striker-striker tajam pun masih terhitung sedikit dan orangnya pasti itu-itu saja. Tengoklah dari ajang Piala AFF 2016, hanya Lerby Eliandry seorang yang notabene merupakan nama baru di posisi penyerang.

Selain itu, pengurangan kuota pemain asing juga bisa membuka kesempatan yang lebih lebar bagi para pemain muda. Terlebih, PSSI juga berencana mewajibkan setiap klub untuk memainkan tiga pemain yang berusia di bawah 25 tahun dalam setiap laganya. Karenanya, peluang pemain muda akan jauh lebih besar dan ini adalah angin segar bagi regenerasi sepak bola Indonesia.

Dengan banyak munculnya pemain muda yang diberi kesempatan untuk unjug gigi, itu artinya timnas Indonesia level senior dan junior memiliki lebih banyak pilihan pemain. Hal itu tentu memang diinginkan PSSI mengingat dua agenda besar timnas yakni SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 menggunakan pemain-pemain yang berusia 22 tahun ke bawah.

Selain itu, pengurangan kuota peman asing juga akan berdampak positif bagi keuangan klub. Karena biaya yang harus mereka keluarkan untuk satu pemain asing lain bisa dialokasikan untuk biaya operasional. Apalagi harga pemain asing umumnya jauh lebih mahal daripada pemain-pemain lokal.

Tapi perlu dicatat, pengurangan kuota asing memang bakal lebih banyak memberikan pilihan bagi timnas, tapi itu bukan berarti timnas bakal lebih kuat. Pasalnya, berkurangnya pemain asing yang beredar di Indonesia bisa mengakibatkan dua hal: tingkat kompetisi menjadi menurun dan kualitas para pemain lokal pun, sebagai imbasnya, juga menurun.

Apa yang terjadi di Thailand bisa menjadi contoh. Thai League (kasta teratas Liga Thailand) saat ini menggunakan komposisi 3+1+1 untuk pemain asingnya.

Tiga pemain bebas didatangkan dari benua mana saja, satu harus dari Asia, dan satu lagi harus berasal dari negara-negara Asia Tenggara. Menariknya, walau banyak, timnas mereka mampu menembus level top Asia dan menjadi kampiun di Asia Tenggara.

Selain itu, mereka juga tetap bisa memunculkan banyak nama-nama pemain muda berkualitas. Chanatip Songkrasin atau Kawin Thamsatchanan adalah contohnya. Memang, alih-alih mengurangi kuota pemain asing, Thailand justru fokus untuk meningkatkan kualitas dan mutu kompetisi mereka. Dan itu justru yang tidak dilakukan Indonesia saat ini.

Keberadaan pemain asing di kompetisi lokal memang tak selamanya buruk. Harus diakui, pemain asing (terutama yang memang berkualitas tinggi) bisa mengerek performa para pemain lokal dan kompetisi juga. Nah, pengurangan kuota pemain asing, diperkirakan, bisa berdampak pada menurunnya kualitas kompetisi kita. Liga Super Indonesia mungkin akan kurang menarik tahun ini.

Dan kembali lagi, dengan menurunnya kualitas kompetisi, kualitas para pemain yang bermain di dalamnya pun, secara otomatis, akan menurun juga. Imbasnya, efek negatif ini mungkin akan dirasakan juga oleh timnas Indonesia nantinya. Waduh.

Tentu saja ini masih teori-teori di atas kertas semata. Efek regulasi seperti ini mungkin baru akan kita lihat ketika kompetisi sudah berlangsung nanti, dan bagi timnas, efeknya baru akan terasa dalam jangka panjang.

Sekarang, kita hanya bisa berharap PSSI telah memikirkan imbas positif dan negatif dari regulasi yang akan diterapkan. Dan berharap bahwa ketakutan akan efek negatif yang bisa dihasilkan nanti tak akan benar-benar menjadi nyata.