Deretan Pertandingan Comeback Terhebat di Ajang Antarklub Eropa

Sepp Herberger sudah wafat hampir empat dekade silam. Namun, warisan pria asal Jerman ini sampai sekarang belum juga luntur.

Dalam sebuah kesempatan, Herberger pernah mengatakan bahwa “bola itu bulat dan sebuah pertandingan berlangsung selama 90 menit”. Klise memang kedengarannya. Akan tetapi, dia tidak asal bicara. Ketika mengucap kalimat tersebut, Herberger secara tidak langsung menekankan bahwa semuanya mungkin terjadi di sepak bola. Semuanya.

Herberger sendiri pernah menjadi pelakunya. Menghadapi Hongaria yang perkasa dan tidak terkalahkan selama bertahun-tahun, Tim Nasional Jerman Barat yang dilatihnya berhasil menjinakkan serdadu-serdadu Gusztav Sebes pada final Piala Dunia 1954.

Terlepas dari adanya tuduhan bahwa para pemain Hongaria diracuni, sejarah mencatat bahwa Jerman Barat adalah juara dunianya, bukan Hongaria. Dengan keberhasilan tersebut, selain menjungkalkan prediksi, Herberger juga meletakkan tradisi sepak bola kuat di negara yang saat itu belum pulih benar dari efek Perang Dunia.

Tidak ada yang tidak mungkin di sepak bola. Para penggemar sepak bola tahu itu. Semua pelaku sepak bola pun tahu itu. Pasalnya, ada banyak sekali bukti yang menunjukkan hal itu. Keberhasilan Jerman Barat kala itu hanya satu dari sekian banyak contoh.

Menghadapi Paris Saint-Germain di Camp Nou, dini hari (9/3) nanti, Barcelona punya tugas yang tidak ringan. Sama sekali tidak ringan, kalau tidak boleh dibilang mustahil. Di rumah mereka yang megah itu, Lionel Messi dkk. diharuskan untuk menang dengan selisih lima gol untuk bisa lolos ke perempat final Liga Champions setelah di leg sebelumnya, mereka takluk 0-4.

Ajang antarklub Eropa sendiri tidak asing dengan yang namanya comeback, atau keberhasilan sebuah klub membalikkan keadaan setelah kalah di leg pertama. Hal ini sudah kerap terjadi bahkan sejak kejuaraan-kejuaraan antarklub baru seumur jagung. Lewat sini, kumparan ingin mengajak Anda untuk mengunjungi momen-momen di mana keajaiban-keajaiban itu terjadi.

1) FC La Chaux-de-Fonds vs Leixoes SC (6-2, 0-5) – Babak Kualifikasi Piala Winners 1961/62

Pernah dengar dua klub ini? Sama, kami sebelumnya juga belum pernah. Maka dari itu, kami harus memulainya dari sini supaya terlihat keren. Sebagai pengantar, FC Chaux-de-Fonds adalah klub asal Swiss dan Leixoes SC adalah klub dari Portugal. Saat ini, Chaux-de-Fonds berlaga di Promotion League alias Divisi Tiga Liga Swiss. Sementara itu, Leixoes SC kini bermain di Divisi Dua Liga Portugal.

Ketika itu, Leixoes SC berhasil lolos ke Piala Winners setelah mengalahkan Porto di final Taca de Portugal (Piala Portugal) dengan skor meyakinkan 2-0. Di babak kualifikasi, mereka langsung berjumpa dengan Chaux-de-Fonds yang lebih berpengalaman. Hasilnya, mereka dibantai 2-6 di kandang lawan, Stade Charriere.

Namun, Leixoes bangkit. Di kandang sendiri, mereka mengamuk dan menggelontor gawang Chaux-de-Fonds lima gol tanpa balas. Empat gol, masing-masing dua dari Osvaldo Silva dan Oliveiringa, ditambah sebiji gol dari Vandinho, membuat Leixoes melenggang ke babak berikutnya.

Di turnamen ini sendiri, Leixoes berhasil melaju sampai perempat final. Pada babak pertama, mereka sukses menundukkan wakil Rumania, Progresul Bucuresti, dengan kemenangan agregat 2-1. Sayang, langkah mereka kemudian dihentikan oleh klub Jerman Timur, Motor Jena, dengan skor agregat 4-2.

Meski tersingkir lebih awal, keberhasilan Leixoes ini belum bisa disamai klub mana pun sampai sekarang. Mereka adalah satu-satunya klub yang bisa lolos setelah tertinggal empat gol di leg pertama tanpa mengandalkan aturan agresivitas gol tandang. Wow!

2) Partizan vs Queens Park Rangers (2-6, 4-0) – 16 Besar Piala UEFA 1984/85

Bicara soal tertinggal empat gol, ada Partizan, klub bentukan militer Yugoslavia. Ketika itu, mereka berhasil mengubur mimpi anak-anak Queens Park Rangers (QPR) yang jemawa.

Ceritanya adalah, pada leg pertama QPR harus mengungsi ke Arsenal Stadium di Highbury karena Persatuan Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) tidak mengizinkan pertandingan dilangsungkan di atas lapangan artifisial. Loftus Road, kandang mereka, ketika itu menggunakan rumput buatan karena, well, biaya perawatannya lebih murah.
Meminjam stadion milik Arsenal, QPR tertular tuahnya. Mereka mengirim wakil Yugoslavia itu pulang dengan kekalahan 2-6. Tugas QPR kala harus bertandang ke Beograd pun semakin ringan.

Hmm, benarkah?

Ternyata tidak. Biar bagaimana juga, Partizan adalah Partizan, klub raksasa dari Semenanjung Balkan. Sementara itu, QPR tetaplah QPR, klub kelas kecamatan dari Shepherd’s Bush di London Barat.

Dragan Mance, Dragan Kalicanin, Mlodrag Jesic, dan Zvonko Zivkovic jadi mimpi buruk The Hoops. Empat gol mereka akhirnya membuat kedudukan imbang 6-6 secara agregat dan atas keberhasilan Partizan membuat dua gol di London, merekalah yang akhirnya lolos ke perempat final. Sayang, mereka kemudian harus kalah dari tim yang akhirnya menjadi finalis, Videoton dari Hongaria.

3) Bayer Uerdingen vs Dynamo Dresden (0-2, 7-3) – Perempat Final Piala UEFA 1985/86

Barangkali, duel Jerman Barat vs Jerman Timur ini adalah duel paling menggelikan yang pernah ada di ajang antarklub Eropa. Entahlah, tetapi bagi kami ini benar-benar konyol.

Bayer Uerdingen adalah tim Jerman Barat, sedangkan Dynamo Dresden merupakan klub jagoan Oberliga Jerman Timur. Ketika Uerdingen menyeberang ke Dresden, mereka harus mengakui keunggulan Matthias Sammer dkk. dengan skor 2-0. Gol dari Frank Lippmann pada menit ke-50 dan Hans-Uwe Pilz 12 menit berselang membuat beban Dynamo menjadi sedikit berkurang.

Benar saja. Dalam laga leg kedua di Grotenburg-Stadion, Dynamo pun berhasil mengakhiri babak pertama dengan keunggulan 3-1. Namun, bak jadi pertanda keruntuhan komunisme di Jerman, Dynamo pun mendadak loyo.

Enam gol berhasil digelontorkan anak-anak Bayer Uerdingen di babak kedua. Wolfgang Funkel yang sempat membuat satu gol pada babak pertama, membuat dua gol tambahan. Kemudian, empat gol lainnya dicetak oleh Larus Gudmonsson, Wolfgang Schaefer (dua gol), dan Dietmar Klinger.

Sayangnya, sensasi Bayer Uerdingen ini kemudian terhenti di tangan Atletico Madrid. Anak-anak asuh Luis Aragones tersebut secara meyakinkan menyingkirkan Uerdingen dengan skor agregat 4-2.

4) Bayer Leverkusen vs Espanyol (0-3, 3-0, 3-2 – pen) – Final Piala UEFA 1987/88

Gary Lineker pernah berkata bahwa sepak bola adalah sebuah permainan di mana 22 orang saling berebut bola selama 90 menit dan pada akhirnya, orang-orang Jerman selalu menang. Walau ada benarnya, Lineker lupa bahwa orang-orang Jerman juga bisa menang lewat pertandingan selama 180 menit, ditambah 30 menit perpanjangan waktu, dan adu penalti. Contohnya adalah Bayer Leverkusen.

Bertandang ke Barcelona, Leverkusen takluk dari Espanyol dengan skor telak 0-3. Dua gol dari Sebastian Losada dan satu gol dari Miguel Soler membuat anak-anak asuh Javier Clemente menatap leg kedua di Leverkusen dengan kepercayaan diri yang tinggi. Bahkan, hingga turun minum di laga leg kedua, Espanyol masih unggul agregat 3-0 karena tidak ada gol yang tercipta di babak pertama.

Namun, semua itu lenyap ketika pemain sayap asal Brasil, Tita, menggetarkan jala gawang Thomas N’Kono pada menit ke-57. Setelah gol itu, Leverkusen mampu mencetak dua gol tambahan lewat dua pemain asing lainnya: Falko Goetz dari Jerman Timur dan bintang Asia, Cha Bum-Kun. Tiga gol itu membuat kedudukan menjadi imbang secara agregat.

Laga pun diteruskan lewat perpanjangan waktu dan setelah tak ada lagi gol, adu penalti pun harus jadi penentu. Kegagalan tiga penendang Espanyol akhirnya membuat Leverkusen merengkuh satu-satunya trofi kontinental mereka.

5) Deportivo La Coruna vs Milan (1-4, 4-0) – Perempat Final Liga Champions 2003/04

Setelah berkutat dengan kejadian-kejadian di abad ke-20, saatnya kita bergerak menuju ke era yang lebih modern, tepatnya ke tahun 2004.

Milan adalah salah satu tim terkuat Eropa pada awal hingga pertengahan dekade 2000-an. Dalam kurun waktu tersebut, mereka berhasil melaju ke final Liga Champions sebanyak tiga kali dan memenangi dua di antaranya.

Namun, Milan bukan tanpa cela. Menghadapi wakil Spanyol, Deportivo La Coruna, yang juga sedang ganas-ganasnya, mereka pernah terjungkal. Celakanya, Milan sebenarnya sudah sempat unggul telak.

Pada leg pertama di San Siro, sepasang gol Kaka dan masing-masing sebiji gol dari Andriy Shevchenko dan Andrea Pirlo hanya mampu dibalas La Coruna lewat satu gol Walter Pandiani. Akkan tetapi, ternyata satu gol dari Pandiani itu sudah cukup untuk membakar motivasi pasukan Javier Irureta.

Di Riazor, Walter Pandiani kembali momok bagi Nelson Dida. Baru lima menit pertandingan dimulai, penyerang Uruguay itu membuka keunggulan Super Depor. Setelah itu, tuan rumah pun mengamuk dan menggelontor tiga gol ke gawang Milan. Juan Carlos Valeron, Albert Luque, dan Fran Gonzalez menjadi pencetak tiga gol tambahan yang akhirnya membuat Deportivo La Coruna lolos ke semifinal sebelum dibekuk Porto.

6) Monaco vs Real Madrid (2-4, 3-1) – Perempat Final Liga Champions 2003/04

Bicara soal Liga Champions 2003/04 memang tak ada habisnya. Selain pertandingan La Coruna melawan Milan, laga antara Monaco dan Real Madrid juga menghadirkan drama yang tak kalah berkelas.

Monaco datang ke Santiago Bernabeu pada 24 Maret 2004 sebagai underdog. Menghadapi Real Madrid era Galacticos pertama, status itu kemudian ditegaskan setelah mereka kalah 4-2 di laga tersebut.

Akan tetapi, tahun itu memang tahunnya underdog karena pada leg kedua di Stade Louis II, Monaco berhasil membuat Madrid masuk kotak setelah menang dengan skor 3-1. Dengan skor agregat 5-5, Monaco berhak lolos ke babak semifinal. Mereka pun kemudian mampu lolos ke partai puncak sebelum dikalahkan oleh, hmm, Porto.
Hoahm.

7) Chelsea vs Napoli (1-3, 4-1 – e.t.) – 16 Besar Liga Champions 2011/12

Chelsea sempat merasakan keangkeran Stadion San Paolo setelah takluk 1-3 dari Napoli pada pertandingan leg pertama. Pada laga leg pertama tersebut, konon getaran dari stadion itu sampai menimbulkan gempa lokal. Serius.
Namun, pada leg kedua, Chelsea menunjukkan kematangannya. Diperkuat pemain-pemain yang memang sudah lama jadi tulang punggung tim, Chelsea berhasil memaksa anak-anak asuh Walter Mazzarri untuk mengakhiri laga lewat perpanjangan waktu. Di waktu normal, Chelsea berhasil mengungguli Napoli dengan skor identik, 3-1.

Chelsea harus berterima kasih pada Branislav Ivanovic. Setelah pada musim sebelumnya berhasil memenangkan laga final Liga Europa untuk The Blues, Ivanovic kembali menunjukkan jasanya. Golnya di menit ke-105 membawa Chelsea terus melaju hingga akhirnya keluar sebagai juara.