Harapan Sepak Bola Indonesia Kini di Tangan Luis Milla

Timnas Indonesia punya harapan besar pasca Kongres Tahunan PSSI di Bandung awal bulan ini. Mengambil banyak pelajaran dari kegagalan di Piala AFF 2016, induk organisasi sepak bola Indonesia tersebut ingin melakukan serangkaian perubahan di tubuh timnas Garuda.

Posisi pelatih Alfred Riedl dicopot. Untuk pengganti PSSI masih akan memercayakan kepada pelatih impor. Dari kongres PSSI ada dua nama yang direkomendasikan. Yakni mantan pelatih PSG Luis Fernandez dan mantan pelatih U-20 Spanyol Luis Milla Aspas yang akhirnya diumumkan menjadi pelatih timnas Indonesia.

Jika membandingkan Milla dengan Riedl, jelas harapan pecinta sepak bola tanah air meninggi. Milla adalah mantan pemain yang pernah bermain untuk tiga klub raksasa Eropa yakni,  Valencia, Barcelona dan Real Madrid. Ia segenerasi dengan pemain-pemain top dunia semisal Zinedine Zidane, Romario, Rivaldo, Roberto Carlos.

Di tiga klub yang ia bela itu, Milla selalu turut memberikan sumbangsih untuk mengangkat tropi juara. Tropi sebagai pemain memang tak menentukan ketika ia sudah menjadi pelatih. Tapi setidaknya, Milla punya aura yang akan membuat pemain-pemain muda Indonesia menjadikannya panutan. Seperti halnya Zinedine Zidane di Real Madrid saat ini.

Tapi trek rekor Milla sebagai pelatih juga sudah tak perlu lagi disanksikan. Sudah 11 tahun dirinya mengabdikan diri sebagai pelatih di berbagai klub. Karirnya sebagai entrenadore lebih banyak dihabiskan bersama timnas junior Spanyol. Dan melatih Spanyol dari lintas usia mulai dari U-19, U-20, U-21, U-23 merupakan puncak terhebat dalam karir kepelatihan Milla. Ia mengoleksi tropi Piala Eropa U-21 tahun 2011.  Tahun 2010, timnas U-19 Spanyol dibawanya menjadi runner up Piala Eropa. Dengan U-20 Spanyol Milla membawa timnya juara di ajang Mediterania Games 2009.

Selain punya prestasi, Milla juga memoles pemain-pemain muda Spanyol ini menjadi pemain masa depan. David De Gea, Juan Mata, Javi Martinez, Thiago Alcantara adalah beberapa pemain yang pada masa muda merasakan tangan dingin Milla. Hal inilah yang kita harapkan bisa dilakukan Milla untuk Indonesia. Memang terlalu mengawang jika kita menuntut Milla membuat Indonesia sehebat Spanyol. Namun jika melihat bakat-bakat muda yang dimiliki Indonesia sebenarnya cocok dengan filosofi yang diterapkan Milla buat Spanyol.

Pemain yang dibawa Riedl di Piala AFF kemarin adalah pemain muda yang berusia rata-rata 25 tahun. Alfred Riedl pernah menyampaikan pendapatnya di sela-sela Piala AFF kemaren bahwa ia melihat Indonesia punya potensi menjadi negara sepak bola yang akan besar di Asia Tenggara.

Bakat-bakat sehebat Boaz Solossa masih banyak yang terpendam karena ketidakjelasan kompetisi sepak bola di Indonesia dua tahun terakhir. Menurut Reidl saat itu, Indonesia hanya butuh pengelolaan yang lebih baik dan investasi yang lebih serius untuk mengembangkan pemain-pemain muda.

Penulis juga sependapat dengan Riedl yang menyebutkan Indonesia walau belum punya liga dan timnas yang kuat, negara ini adalah negara sepak bola. Buktinya adalah basis suporter begitu menggilai setiap ada pertandingan sepak bola. Apakah itu timnas Indonesia, klub, bahkan hanya pertandingan liga antar kampung sekalipun.

Jika Cina dan Amerika Serikat perlu mendatangkan pemain-pemain bintang Eropa untuk mendongkrak animo sepak bola, Indonesia tak perlu seperti itu. Di seluruh pelosok tanah air sudah sangat mencintai sepak bola.

Masih mengutip pendapat Riedl, jika Indonesia ingin jadi negara sepak bola, harus dimulai dari pembinaan sejak usia ini. PSSI harus membuat liga yang berjenjang dari berbagai tingkatan usia. Hal yang juga dilakukan oleh negara dengan liga-liga ternama di Eropa.

Kembali kita contohkan Spanyol, negara tersebut tak hanya mempersiapkan pemain timnas dari  La Liga Primera saja. Di bawah La Liga ada Segunda Division atau liga Adelante. Ada lagi di bawahnya Segunda Division B, di bawah itu ada lagi Tercera Division.

Selain itu, otoritas sepak bola negara tersebut juga mewajibkan setiap klub punya akademi untuk pemain-pemain muda sejak usia dini. Jadinya pengembangan  timnas mereka saling berkaitan antara otoritas, klub dan badan liga.

Untungnya PSSI juga sudah menyadari hal ini dan membahasnya pada kongres PSSI di Bandung. Tahun ini, PSSI akan menggulirkan liga dari berbagai level usia. Sebut saja Liga Super Indonesia, Divisi Utama, Liga Nusantara, usia muda (U-15), Piala Soeratin (U-17), dan Pertiwi Cup.

Jika kompetisi sudah kembali normal seperti ini, Indonesia punya harapan untuk dapat tumbuh dan membalas semua kegagalan di ajang internasional. Hidupnya kompetisi membuat aktivitas dan keuangan klub kembali berjalan baik. Anak-anak kecil penyuka olahraga sepak bola punya kans untuk belajar banyak di tim junior setiap klub di Indonesia.

Adanya kompetisi dari usia berjenjang akan memudahkan klub melakukan regenerasi. Timnas dengan mudah memantau pemain-pemain yang pantas diberi kesempatan mengenakan kostum garuda merah putih. Terakhir tugas Milla tinggal mempraktikkan semua ilmunya untuk membuat lagu Indonesia terus berkumandang di dunia internasional.